Masih dalam rangka The 1st Edition of the Italian Cuisine Week in the World, pada tanggal 24 November 2016, digelar sebuah  seminar yang masih bertemakan tentang pangan. Seminar tersebut berjudul “Sustainable Food” yang dibawakan oleh perwakilan dari Slow Food Jabodetabek, Bibong Widyarti. 

Slow Food merupakan sebuah komunitas skala internasional yang bertujuan untuk memperkenalkan kembali asal dari makanan yang dikonsumsi oleh masyarakat. Baik melalui rasa dan bagaimana nantinya pengatuh dari makanan yang dikonsumsi terhadap lingkungan sekitar. Slow Food sendiri didasari atas tiga prinsip yaitu; Good, Clean, dan Fair.

Di dalam seminar tersebut, Bibong Widyarti mengungkapkan bahwa pangan atau makanan merupakan suatu hal yang esensial dalam kehidupan. Pangan menjadi sebuah bagian penting dalam indentitas kebudayaan juga berperan penting dalam peranan ekonomi.

Perwakilan dari Slow Food Jabodetabek ini juga mengungkapkan bahwa pangan yang berkelanjutan atau ‘Sustainable Food’ diartikan sebagaimana sebuah sistem berkelanjutan yang mencakup isu-isu seperti keamanan pasokan pangan, kesehatan, keselamataan, keterjangkauan, kualitas, industri makanan yang kuat baik berupa pekerjaan maupun pertumbuhan dan kelestarian lingkungan di waktu yang sama. Tidak hanya itu, namun juga terkait dengan isu-isu seperti perubahan iklim, keanekaragaman hayati, air, serta kualitas tanah.

Dalam acara seminar ini, Pusat Kebudayaan Italia juga membuka showcase berupa produk-produk lokal yang berada dalam naungan Slow Food Jabodetabek, mulai dari kepala kopyor, bakmi sagu, hingga kopi dan teh lokal.

Di akhir seminarnya, Bibong Widyarti menyimpulkan bahwa untuk menjadi konsumer yang berkelanjutan, dengan turut mendukung pangan yang berkelanjutan, juga turut mendukung para petani yang berkelanjutan hingga membentuk kebiasaan yang berkelanjutan. – FNB | Photo: redaksi

Desainwebku