Berangkat dari keresahan dan sesak yang sama, Sutradara muda (pada saat itu) Mira Lesmana, Nan Achnas, Riri Riza dan Rizal Mantovani menggarap sebuah karya film yang berisikan gambaran realitas anak muda di era reformasi.

Memiliki banyak kendala dari pra-shooting hingga pasca shooting tidak membuat keempat sutradara itu menyerah begitu saja, merasa bahwa mereka harus keluar dari belenggu sepuluh tahun mati suri dunia perfilman Indonesia.

27 November 1998, film Kuldesak pertama kali diluncurkan di 3 layar bioskop di Jakarta, kemudian bertambah masing-masing 1 layar di kota Bandung, Jogjakarta dan Surabaya.

Film yang disutradarai oleh Mira Lesmana, Nan Achnas, Riri Riza dan Rizal Mantovani menghasilkan lebih dari 100 ribu penonton dengan hanya enam layar yang ditayangkan.

Film yang dibuat selama tahun ini disebut sebagai penanda era baru perfilman Indonesia oleh para pengamat film, baik di dalam maupun di luar negeri.

Film ini menceritakan empat tokoh anak muda yang dihadapkan pada beberapa masalah yang berbeda-beda di kota metropolitan Jakarta pada pertengahan 1990an.

Dalam peringkatan 20 tahun ini film Kuldesak akan kembali diputar di 9 Kota di tanah air pada 30 Desember 2018 mendatang.


“Hanya satu hari dan hanya satu kali penayangan, di 9 kota Jakarta, Bandung, Surabaya, Makassar, Yogyakarta, Semarang, Solo, Malang dan Padang,” ujar Riri dikawasan Kuningan, Jakarta Selatan, Rabu (19/12/2018).

Film yang diputar nanti merupakan file hasil digitasi dari materi film print 35mm bukan hasil restorasi.

“Karena restorasi perlu 2 tahun. Harus cek dulu sekotor apa kondisinya. Ini kita cepat jadi nanti kalau nonton ada garis-garis goyang-goyang,” ujar Mira di tempat yang sama.

Dalam peringatan 20 tahun ini juga Kuldesak meluncurkan buku dan Pameran Sehari Arsip Kuldesak.

20 tahun Kuldesak disambut hangat dan antusias oleh para penikmat perfilman, baik Indonesia maupun mancangera.

(Nadya | Foto : Redaksi | Editor : Monika)

Desainwebku