Liburan pada dasarnya adalah saat dimana seseorang dapat menggunakan waktunya untuk lebih dekat dengan keluarga atau teman terdekat yang menghasilkan kepuasan dan rasa senang.

Seperti Bali, pemerintah Provinsi Bali kembali mengembangkan 11 desa wisata yang tersebar di delapan kabupaten, sebagai salah satu upaya untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa sekaligus meningkatkan kunjungan wisatawan, baik lokal maupun mancanegara.

“Dengan dibentuk menjadi desa wisata, setidaknya dapat menggulirkan perekonomian di desa sehingga memperkecil arus urbanisasi dan juga membantu mengentaskan kemiskinan,” ujar Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Bali Anak Agung Gede Yuniartha Putra, di Denpasar, belum lama ini.

Tahun ini, 11 desa wisata yang akan difasilitasi Pemprov Bali yakni Desa Pemuteran (Kabupaten Buleleng), Desa Batuagung (Kabupaten Jembrana), Desa Tua dan Sudimara (Kabupaten Tabanan), Desa Pangsan (Kabupaten Badung), Desa Singapadu Tengah (Kabupaten Gianyar), Desa Bakas (Kabupaten Klungkung), Desa Trunyan dan Suter (Kabupaten Bangli) serta Desa Antiga dan Muntigunung (Kabupaten Karangasem).

“Semua desa wisata yang akan difasilitasi tahun ini, berbeda halnya dengan tahun-tahun sebelumnya. Selain dikembangkan desa dengan keunggulan wisata alamnya, juga wisata budaya, wisata agro, dan ekowisata,” tandasnya.

Pemprov Bali, Yuniartha, menargetkan hingga 2018 dapat mengembangkan setidaknya 100 desa wisata. Sedangkan, 2013 hingga 2015 sudah 42 desa yang difasilitasi untuk menjadi desa wisata.

Menurutnya, desa wisata yang telah dikembangkan, tidak hanya mendapatkan bantuan anggaran, juga mendapatkan pembinaan terkait dengan program Sapta Pesona maupun potensi yang cocok untuk dikembangkan sesuai dengan keunggulan yang dimiliki.

“Misalnya desa dengan potensi persawahan, tentunya harus dibarengi dengan kegiatan masyarakat bercocok tanam, maupun kegiatan ritual terkait,” ucapnya.

Yuniartha menambahkan, pihaknya juga akan berkoordinasi dengan pemerintah kabupaten, terkait program-program penguatan dan pendampingan yang bisa dilakukan untuk desa wisata.

“Selain itu, kami juga menyambungkan dengan pihak agen perjalanan wisata,” papar Yuniartha.Sebagai salah satu contoh pengembangan desa wisata yang berhasil adalah Desa Penglipuran di

Kabupaten Bangli, yang mendapatkan juara satu di Indonesia dan akan diajukan untuk bersaing di tingkat ASEAN.

Wah, nggak sabar ya untuk menanti hari libur.

Jurnalis: Indriany RS | Header: wisatabaliaga.com

Desainwebku